19/06/2021

Inspirasi

Inspirasi

3 Kebiasaan Buruk yang Bikin Masa Depan Keuangan Terancam

Kerasa nggak sih, saking canggihnya teknologi sekarang justru kita jadi makin mudah transaksi dan cenderung boros? Mulai dari adanya pay later, cicilan tanpa kartu kredit, kredit online, dan sejenisnya, semua transaksi jadi makin gampang dilakukan. Belum ditambah dengan berbagai promo yang pasti setiap hari ada, makin mendorong kita untuk tambah konsumtif. 

 

Padahal, keuangan adalah hal penting yang harus diatur sejak dini agar kehidupan di masa depan bisa terjamin. Sebab, kita tidak hanya hidup di masa sekarang. Ada cita-cita, tujuan, dan mimpi yang harus diraih ke depannya demi hidup yang lebih baik. 

 

Sebuah survei bahkan mengungkap, sekitar 61% generasi milenial saat ini tidak bisa membeli rumah sendiri di masa depan karena sifat konsumtifnya yang tinggi dibanding memilih menabung atau berinvestasi. Duh, jangan sampai kita jadi salah satunya, yaa. 

 

Belum telat kalau mau berubah. Namun, untuk memperbaiki hal tersebut, kita perlu tahu dulu apa-apa saja kebiasaan buruk yang ada pada diri kita sekarang. Dengan begitu, kita bisa tahu langkah selanjutnya yang bisa dilakukan untuk berhenti dan jadi lebih baik. 

 

Jika kamu punya 3 kebiasaan ini, yuk segera berhenti dan hindari: 

 

Semua serba nyicil

 

Enak di awal, pahit di tengah jalan. Begitulah cicilan. Sekilas, adanya fitur cicilan baik dengan kartu kredit maupun cicilan tanpa kartu kredit seperti Kredivo memang bisa membantu kita memperoleh barang apa pun yang kita ingin atau butuhkan meski belum punya uang cukup. Ditambah, suku bunga cicilan sekarang cukup kompetitif sehingga makin menggiurkan. Kredivo sebagai aplikasi kredit online misalnya yang menawarkan bunga hanya 2,6% per bulan untuk cicilan dengan tenor 3/6/12 bulan. 

 

Namun disisi lain, tanpa adanya kontrol diri yang baik, cicilan justru bisa jadi bumerang. Penting untuk diketahui bahwa porsi cicilan yang sehat maksimal adalah 30% dari jumlah penghasilan per bulannya. Makin rendah, tentu makin baik. Sebaliknya, makin tinggi porsi cicilan, akan makin membahayakan keuangan. 

 

Kalau dikit-dikit nyicil, bukan nggak mungkin jumlah cicilanmu makin menggunung. Atau bahkan gaji bulanan malah kebanyakan buat bayar cicilan? Ada HP baru dikit, nyicil. Brand sepatu favorit ngeluarin edisi baru, nyicil. Jangan ya. 

 

Di sinilah pentingnya untuk membedakan mana keinginan, mana kebutuhan. Sulit memang tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Jika kamu punya akses ke cicilan, baik dalam bentuk kartu kredit maupun cicilan tanpa kartu kredit seperti Kredivo, usahakan untuk menggunakannya hanya demi memenuhi kebutuhan penting. Misalnya, lagi masa WFH atau belajar di rumah tapi gadget rusak karena umumnya udah lama. Nah, opsinya ada 2: dibawa servis atau beli yang baru. Pada kondisi tersebut, cicilan bisa sangat membantu kamu punya gadget baru dalam waktu singkat supaya aktivitas tidak terhambat. 

 

Hobi pakai pay later tanpa memikirkan anggaran keuangan

 

Bukan cuma hadir di e-commerce, layanan pay later kini merambah juga ke aplikasi transportasi online seperti Gojek dan Grab. Bisa dipakai buat ongkos perjalanan sampai pesan makanan. Buat kaum yang sering mager, godaan pay later tentu sulit untuk ditolak. Tau-tau di akhir bulan, tagihan pay later jadi bengkak karena nggak dipantau histori penggunaannya. 

 

Gimana dong solusinya? 

 

Kalau sudah terlalu ‘kecanduan’, kamu bisa menguranginya pelan-pelan. Dimulai dengan kembali ke uang tunai atau menutup akun pay later sekalian setelah melunasi tagihannya. Atau, sah-sah aja pakai pay later untuk refreshment dan supaya mobilitas lebih praktis. Tapi, pastikan kamu memasukkannya ke dalam anggaran yaa supaya semua pengeluaran bisa tercatat. 

 

Keseringan nongkrong di tempat Instagramable

 

Kita hidup di masa di mana kalau pergi nongkrong atau hangout tempat yang Instagramable adalah fokus utama ketimbang menu makanan atau minumannya. Apalagi kalau bukan karena demi feed IG atau story yang estetik. Platform Instagram yang jadi media sosial paling populer tentu menjadi salah satu faktor pendorongnya. 


Padahal, rata-rata tempat yang menjunjung konsep “Instagramable” punya harga menu yang di atas rata-rata. Kalau dananya sudah dianggarkan, sah-sah saja mau jajan atau menghabiskan uang di tempat tersebut. Yang bikin masa depan keuangan terancam adalah jika kondisi tersebut terlalu dipaksakan. Misal, yang harusnya uang jajan hanya cukup ke restoran fast food atau ke kafe sebulan sekali, jadi harus nongkrong di tempat Instagramable demi circle atau media sosial. 

 

Jangan ya, sebab ini akan merugikan kamu kelak, lho. Demi keuangan dan hidup di masa depan yang lebih terarah, yuk lebih bijak lagi dalam menggunakan uangmu mulai dari sekarang!